Let's Smile and Be Happy Till the End
Let's Smile and Be Happy Till the End
Love Yourself
Setiap manusia memiliki cerita unik, entah mengarungi peristiwa yang beraneka, melalui rintangan-rintangan tak terduga, ataupun menghadapi liku emosional yang ananta. Bermula dari sesosok bayi mungil yang kesehariannya menangis di pangkuan, menginjak usia dini gemar bermain kesana dan kemari merajuk menuntut perhatian, kemudian bertambah usia banyak menghabiskan waktu dengan kawan baru, bermain, bercerita, dan bercengkerama. Masa remaja menyapa dan ia mulai belajar mengenal diri dan mengenal tanggung jawab tahap demi tahap. Memahami kehidupan, membuat dan menentu pilihan. Melangkah ke depan bersapa pada usia dan fikir yang dewasa hingga hari tua menyapa.
Hidup ini singkat, namun meniti pengalaman yang terasa amat panjang.
Dewasa kita belajar banyak tentang kehidupan. Bagaimana hidup yang tak selalu bahagia dan rintangan akan selalu ada untuk menghadang. Hal-hal baru bermunculan tanpa henti dan manusia selalu dituntut belajar untuk menghadapinya. Kemanusiaan salah satunya, baik itu di antara kita maupun kita dengan lingkungan sekitar.
Di Era saat ini misalnya, kita diajak belajar untuk lebih menyayangi diri sendiri. Bagaimana kita berdamai dari segala kekurangan yang selama ini kita jumpai, baik pada diri, orang terdekat kita, lingkungan kita, dsb. Bagaimana kita mulai mengenal kata toxic yang kemudian tanpa sadar mempengaruhi kehidupan kita; pola pikir, emosional, tingkah laku, dll.
Mental health. Yes!
Membicarakan tentang kesehatan mental, ia mencakup ilmu yang sangat luas. Menilik dari peristiwa yang akhir-akhir ini dibicarakan khalayak, yaitu salah satunya bahasannya adalah mengenal inner child. Sebagaimana yang banyak kita tahu, inner child berperan penting dalam pendewasaan seseorang. Bagaimana kita berpikir, bertindak, bersikap, dan apapun yang menopang kita sebagai manusia. Kita sama paham kan bagaimana inner child yang terluka mempengaruhi seseorang? Exactly.
Sedikit demi sedikit kita memahami satu dua hal pengetahuan tentang ini. "Oh, ternyata aku yang seperti ini karena aku dulu yang mengalami hal itu". "Oh, perilakuku ini terbentuk karena itu". Oh, oh, dan oh yang lain. Mempertanyakan tentang bagaimana kita tumbuh dengan orang lain sebagai pembanding. Bagaimana kita tumbuh di antara pengguna bahasa yang tidak merangkul. Bagaimana kita tumbuh dengan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Bagaimana kita menjadi sosok salah walau hanya dari hal-hal kecil. Bagaimana kita tumbuh dengan kekerasan fisik pun verbal sebagai bentuk ajaran dari kedisiplinan, dan banyak hal lainnya. Agaknya dari segala sebab itu, pemicu paling kuat adalah keluarga sendiri. Mengacu pada keluarga di sini tentu tak lepas dari peran orang tua.
Memahami hal tersebut, sang anak pun tidak tinggal diam. Beberapa mungkin menuntut balasan, iya benar, balas dendam. Balas dendam kepada orang tua, katakanlah demikian. Sang anak mulai berani melawan karena diperlakukan yang tidak seharusnya. Merasa lebih memiliki ilmu kemudian menggurui. Mulailah sang anak menyalahkan, menuntut dengan harap menyembuhkan lukanya hingga sadar atau tidak sadar ia melebihi batas. Durhaka. Melupakan kedudukannya sebagai anak dan beliau-beliau sebagai orang tua, sosok yang kepadanya kita wajib untuk berbakti, bersikap lemah lembut, dan berkasih sayang. Seburuk apapun perbuatan mereka di mata sang anak, jika anak membalas dengan kebaikan kepada mereka sebanyak apapun toh itu tidak akan lebih dari ujung kuku jari.
Oleh karena itulah, serap ilmu sebanyak-banyaknya dan terapkan dengan sebaik mungkin. Jadikan pengetahuan yang tujuan utamanya adalah untuk menggurui diri kita sendiri. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memahami diri kita, tapi kita bisa berusaha memahami diri kita sendiri, menyayangi diri kita sendiri. Toh, dengan kita banyak mendapatkan ilmu bukankah seharusnya kita semakin paham tindakan apa yang seharusnya baik dan tidak untuk kita lakukan? Kalau kamu paham ilmunya, kenapa menuntut balasan? Yuk selalu berkepala dingin. Di sisi lain, akan selalu ada Dia yang memahami, menyayangi, menemani tanpa kita minta. Kita tidak pernah sendiri, jangan pernah merasa sendiri. Kita selalu disayang, maka jangan merasa selalu diacuhkan. Tanpa kita sadari, di manapun pasti akan selalu ada sosok yang bersedia menjadi tempat untuk berkesah. Berkaca dan berdamailah dengan diri sendiri, cintailah dirimu kemudian orang-orang disekelilingmu dan perbanyaklah bersyukur.
Jaga iman, jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia!
TULUS - Diri (Official Lyric Video)

Komentar
Posting Komentar