Terima Kasih, Bapak
Di dalam ruang ingatan..
Ada seorang anak perempuan, ketika kecil dulu sering diantar ayahnya pergi ke sekolah. TK.. SD.. sang anak ingat pernah melalui pengalaman itu. Membonceng di belakang mengendarai motor, turun di depan gerbang dan berlari ke dalam sekolah sambil sesekali melihat ayahnya melanjutkan perjalanan ke tempat ia mengajar. Iya, sosok ayah dari anak itu adalah seorang guru. Sang anak ingat dulu satu dua kali seselesainya kelas ia menunggu ayahnya menjemput di sekolah bagian depan sambil duduk manis, kadang juga ditemani satu ibu guru baik hati. Oh, siapakah namanya ia sudah lupa... terima kasih, Bu.
Ketika sore menyapa, perempuan kecil itu pun ingat beberapa kali dalam sepekan ayahnya dihampiri mobil oleh kawannya hendak pergi memenuhi panggilan tugas. Anak itu mengekor pada ayahnya, oh ia lupa apakah karena tidak ingin ditinggal atau hanya penasaran rasanya naik mobil. Mungkin keduanya. Ya, setiap ada kesempatan ia akan memohon untuk ikut naik mobil, entah di pangkuan ayahnya atau sekedar berdiri/ duduk di pintu belakang seperti kernet bis hehe. Setelah melaju beberapa meter ia turun dan berlari kembali ke arah rumah dengan tawa yang tak lepas dari wajahnya. Dalam kasus lain, paling tidak ia tetap mengekor ayahnya walaupun hanya sekedar naik motor. Duduk membonceng di belakang, sang ayah mengajaknya berkendara sampai ujung jalan desa dan balik arah kembali ke rumah, barulah ia pergi bertugas. "Menyenangkan!" pikirnya.
Menginjak akhir kelas 3 SD, anak itu mengeluh pada ayahnya tentang taman-temannya di sekolah. Entahlah, sebenarnya ia juga tidak paham apa yang ia keluhkan. Beberapa hari kemudian ia hanya tau kalau ayahnya sudah memindahkan tempat belajarnya. Pindah sekolah. Siapa sangka sekolah barunya ternyata sekolah tempat ayahnya mengajar, jadi tau lah ya ketika anak sekolah di tempat orang tua sendiri mengajar. Hmm, lebih merasa.. aman? Hehe, mungkin orang-orang di sana dulu sempat menganggapnya diistimewakan. Anyways, ada moment yang paling tidak bisa dilupakan semasa ia di sana, yaitu ketika ia berangkat atau pulang sekolah naik sepeda dan di tengah perjalanan ayahnya akan menyusul dari belakang. Sang Ayah kemudian akan mendorong punggungnya agar sepedanya melaju lebih cepat. Momen ini menjadi salah satu momen favoritnya bersama sang ayah kala itu.
Menginjak remaja memasuki masa SMP, gadis itu di sekolahkan di tempat yang jauh dari rumah hingga mau tak mau ia diasramakan. Di masa itu tentu makin sedikit kesempatan yang bisa dihabiskan bersama keluarga, di antaranya hanya di waktu besuk atau ketika perpulangan. Dari kurang lebih 3 tahun gadis itu lebih sering untuk memanfaatkan jam besuk, ikut perpulangan paling tidak setelah 2 atau 3 bulan atau ketika libur panjang tentunya. Jam besuk biasanya ia minta di akhir pekan, hari sabtu sore atau hari ahadnya. Haahh.., egoisnya ia dulu ketika terus dan terus memohon dibesuk, setelah dipikir dulu sang ayah setiap hari pasti selalu disibukkan dengan banyak hal. Pagi mengajar, sore pun malam ada kajian, pertemuan, rapat, dll, bahkan di hari ahad juga. Namun, sang Ayah dengan legawa mau meluangkan waktunya menempuh perjalanan jauh walau panas, menerjang walau hujan ditambah macet ataupun jalanan dengan berbagai medan yang ditempuh. Setelah bersapa si anak, ia masih dipalak hartanya.. ngajak belanja hehe. Muter-muter toko, jalan ke sana dan ke mari.. ambil ini dan itu, ini lagi dan itu lagi.. padahal mungkin dibalik kantongnya hanya ada uang yang tak seberapa heuheu. Selama 3 tahun..., bisa dibayangkan segimana capek jiwa dan raganya kan? hehehe
Mendewasa di usia SMA tidak jauh beda seperti SMP, walau rumah dan sekolah tidak terpisah jarak yang katakanlah jauh, gadis itu memilih untuk memanfaatkan fasilitas boarding school dari sekolah. Seperti biasa, ayah gadis itu tetap memberikan yang terbaik untuk anaknya. Waktu. Adakah yang lebih mahal dari waktu? Adakah yang lebih berharga dari waktu? Di sisi lain ada tenaga juga yang dikerahkan, ada harta juga yang dikeluarkan. Satu kenangan yang paling membekas dan tak terlupakan oleh gadis itu.. satu momen.. dulu awal sekali ketika baru memasuki asrama. Entah lupa kenapa dulu gadis itu gundah, di depan asrama kala itu duduk di tepian pembatas taman. Lupa karna hal apa, satu hal yang pasti perasaannya sore itu tak menentu, sedih? kecewa? sekali lagi.. entahlah. Sang ayah yang melihat anak gadisnya itu kemudian melingkarkan lengannya mendekap pundak sang anak. Gadis itu dipeluk ayahnya. Dipeluk. Ayahnya. Satu momen yang sangat jarang didapat, bahkan kalau diingat itulah pertama kalinya pelukan yang ia dapatkan. Kalian tau apa yang dirasakan anak itu? Dari yang awalnya merasa kalang kabut gundah tak menentu, setelah satu pelukan itu ia merasakan.. tenang.., hangat.., ia merasa.. disayang. Satu pelukan yang tidak akan bisa digantikan oleh apapun. Gadis itu ingin menangis, ia ingat betul perasaan haru kala itu. Hatinya yang berbungah, perasaannya yang meruah.. ia ingin sekali menangis.., tapi ia tak kuasa. Satu pelukan itu.. merupakan hadiah terbaik yang ia dapatkan sejauh ini.
Kini gadis itu telah mendewasa.. ia berhasil menempuh bangku kuliah hingga lulus dengan beragam perjalanan. Merajut banyak pengalaman hingga kini ia memasuki dunia kerja. Terima kasih, Bapak, karena jasamu yang berlimpah gadis itu mampu tumbuh mendewasa.
Tidak banyak hal yang bisa diingat anak itu, kadang.. atau malah sering ia melupakan perjuangan sang ayah yang selama ini ditempuh. Oh! Ia ingat, ketika masih kecil masih sekolah dasar.. ibunya sakit yang mengharuskannya untuk menginap di rumah sakit. Kala itu ia tak paham penderitaan yang dilalui sang ayah. Duhai, ia ingat dulu ayahnya harus tetap memenuhi berbagai kewajiban yang dibebankan dipundaknya. Sebagai kepala keluarga, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai guru, dan kewajiban lain di jalan fii sabilillah. Setelah diingat-ingat, betul-betul berat beban ayahnya saat itu... bahkan hingga kini. Serangan emosional yang bertubi-tubi, menguras tenaga, merapuhkan jiwa pun raga, tapi sang ayah tetap terlihat kuat dimatanya.
Oh, Bapak..
Terima kasih..
Terima kasih...
Terima kasih, Bapak, karena sudah mendampingi ananda dengan penuh ketulusan.
Terima kasih karena sudah memberikan contoh terbaik.
Terima kasih karena sudah menemani dengan limpahan kesabaran.
Terima kasih karena sudah membimbing dengan keikhlasan.
Terima kasih karena sudah menjadi ayah dan kepala keluarga yang tangguh.
Terima kasih untuk tidak pernah putus asa membersamai keluarga.
Terima kasih, Bapak, untuk semua usaha, waktu, tenaga, pikiran, dan segalanya yang telah bapak kerahkan.
Terima kasih sudah menjadi bapak ananda.
Ananda ssaaaayang banget sama bapak.
Bapak sehat-sehat ya.. semoga Allah selalu menyertai jejak kehidupanmu hingga akhir.
나의 아버지 Dad by D.O.

Komentar
Posting Komentar