Wa.sang.ka

antara hitam dan putih

Sudah dari lama Tereliye menerbitkan buku sekuel yang berjudul Negeri Para Bedebah dan disusul dengan judul Negeri di Ujung Tanduk. Lama sudah masyarakat memahami bahwa negeri ini berada di tepian curam, hingga zaman ini semakin kita rasakan realita politik yang terus meletup kian panas, moral yang mulai tersingkir, agama yang kini entah sebagai apa kedudukannya, ekonomi yang tidak terkendali, media masa dengan highlight yang mengadu domba, normalisasi hal yang tidak seharusnya, dll. Ini bukan lagi negeri di ujung tanduk, tapi adakah kalimat lain yang lebih mewakili? 

Kadang kita bertanya-tanya, duhai..., seperti inikah negara yang sudah di ambang kehancuran? atau inikah masa-masa kehancuran bangsa? Padahal umur negara ini pun belum genap 100 tahun pasca merdekanya..

Baru-baru ini media sosial gempar dengan unggahan yang mengangkat isu tentang LGBT. Maraknya isu tersebut menjadi pembicaraan yang terbilang sensitif, ditambah dalam kurun waktu dekat ini pun sudah semakin gencar media sosial menguliknya. Banyak khalayak yang menentang tindakan tersebut, tapi tidak sedikit juga mereka yang memakluminya dengan dalih toleransi ataupun hak asasi manusia. Menggiring opini tentang bagaimana mereka yang tersakiti, bahwa orang lain tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan mereka, tentang orientasi seksual mereka yang fitrahnya demikian, dll. Ini mungkin menjadi salah satu keadaan yang bisa kita sebut dengan menormalisasi hal yang tidak seharusnya dan juga penyelewengan kaidah. Benar? Di sisi lain moral khalayak pun juga semakin dipertanyakan tentang bagaimana kita mengilhami norma-norma kehidupan.

Orang yang menganggap mereka sakit akan disalahkan karena hal tersebut bukanlah penyakit, kata mereka. Tapi, kebenarannya memang sakit kan? Iya, hanya tidak ingin mengiyakan agar dianggap normal, lantas menuntut pengakuan. Kalau memang fitrah dari sananya demikian kenapa butuh diakui? Gencarnya kampanye dari berbagai media, baik pawai, perfilm-an, musik, buku fiksi maupun non-fiksi, ataupun pamflet di kereta, jalanan, fasilitas umum, dll. Akal dan hati kecil mereka pasti tau orientasi mereka itu salah, tapi ketika nafsu sudah membutakan apa mau dikata, kesenangan adalah prioritas utama. Ah, atau mungkin mereka menyebutnya kebahagiaan daripada kesenangan. Bagaimanapun fitrah manusia itu menyukai lawan jenis, laki-laki suka kepada perempuan, dan sebaliknya perempuan suka kepada laki-laki. Itu yang dinamakan fitrah, sifat asalnya demikian dan pada penciptaannya pun juga demikian.

Ini hanya salah satu masalah yang mungkin orang-orang mengatakannya sebagai hal sepele, belum lagi membahas hal lain; misal saja halal-haram yang mungkin mulai dikaburkan di negara ini, yaitu akses makan atau minuman haram yang semakin disuburkan keberadaannya kemudian ditakutkan nantinya akses yang halal dan terpecaya sulit ditemukan. Khalayak era sekarang ini semakin menjunjung tinggi kebebasan hingga menuntut bebas yang sebebas-bebasnya tanpa tahu imbas akhir yang akan ditemui. Menilik lagi pada kejadian lain, yaitu pernikahan beda agama yang tentu kita tahu dalam agama hal demikian tidak dibenarkan. Inilah beberapa masalah yang hanya kita ambil dari satu segi, yaitu agama. Oh, mungkin sosial juga. Belum lagi menilik pada sisi politik, ekonomi, pendidikan, dll.

Jauh hari salah satu pujangga Jawa sudah memperingatkan juga dalam salah satu karyanya Serat Kalatidha yang menyampaikan tentang keadaan di zaman edan, bagaimana cara menghadapinya? Berikut bunyi pada salah satu baitnya di pupuh ke-7 dipaparkan:

Amenangi zaman edan,
ewuhaya ing pambudi,
melu ngedan nora tahan,
yen tan melu anglakoni,
boya keduman melik,
kaliren wakasanipun,
ndilalah kersa allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang eling klawan waspada.
(Pupuh 7 Serat Kalatidha)

Di atas telah dipaparkan bahwa solusi yang beliau arahkan adalah dengan eling lan waspada. Eling dengan makna bersungguh-sungguh untuk selalu ingat dan waspada yang dapat diartikan sebagai sikap awas pada ancaman dari tindakan yang menyimpang dari norma-norma, nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, ataupun daripada fitrahnya. Demikian, semoga kita selalu dijauhkan dari hal-hal buruk dan didekatkan kepada petunjuk.

Jaga iman, jaga kesehatan, dan jangan lupa bahagia!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Let's Smile and Be Happy Till the End

Terima Kasih, Bapak