Wacana dan Basa-basi
Wacana dan Basa-basi
Hanya celoteh tangis, bukan puisi heu :'
Sore itu dia mengajakku ke suatu tempat
Mewacana satu dua hal bersama
Setelah tunai dari agenda yang menghantuinya hari itu
Aku pun mengiyakan, kukatakan padanya, "oke"
Tentu dengan maksud, akan kutunggu hadirmu
Dan aku menunggu, hingga sore bergulir semakin larut
Kulihat jam di tangan dan tersadar kerongkongan kering kerontang
Aku mengunggah pesan dalam status, 'sedang cari minum'
Ada harap ia membaca pesan itu
Karna jika kaki sudah menginjak keluar
Tak ada lagi sinyal yang kan dijangkau si ponsel pintar
(kenapa ngga langsung chat aja si klo bisa bikin story elah :v )
Tunai dan kuseretlah langkah kembali
Haus telah terobati, wacana menanti
Kuhampiri emperan lantai atas
Deru anginpun memburu
Berselimut dingin
Berhembus merasuk ke tiap pori
Berdiri bulu roma
Gemeletuk gigi berdansa
Kulihat jam dan malam semakin larut
Kuperhatikan ponsel dan tak ada pesan berdentang
Aku harus pulang...
Kubulatkan tekan dan kutuntun diri
Menuruni tangga, menggapai dinginnya malam
Di balik ruang yang dijanjikan (uhuk)
Dan aku melihatnya
Masuk dari pintu luar menyusuri petak demi petak ubin lantai
Tersenyum ia dan tertawa riang
Bersama sosok berjilbab biru digandengnya
Kemudian dia melihtaku, menghampiri, dan menyapa tanpa tahu
Bahwa aku menunggunya seorang diri
Di tempat yang telah ia pinta
Tersadarlah, ah, rupa-rupanya hanya basa-basi
Oh, Gadis kecilku...
Kecewakah engkau?
________________________________
Ditulis pada:
Kamis, 27 September 2018
Pukul 21.04 WIB (Saat akhirnya sadar kalau seharian belum makan)
Terpintas dalam perjalanan pulang di laju 25 km/jam

Komentar
Posting Komentar